Skip to main content

Posts

Featured

Pada usia 18, mendirikan Sekolah Anak-anak bagi Pengungsi dan Mendapat Penghargaan dari Ratu Inggris

Heidy Quah baru berusia 18 tahun ketika dia menawarkan diri sebagai sukarelawan mengajar Bahasa Inggeris di Pusat Pendidikan Anak-Anak Chin, sebuah sekolah untuk kanak-kanak pengungsi, sementara dia menunggu surat panggilan masuk perguruan tinggi (college) di Malaysia. Bagaimanapun, ketika Heidy mendapat informasi bahwa sekolah itu akan ditutup karena mereka tidak akan mendapat lagi dana dari Badan Pengungsi PBB (UNHCR), dia terasa terdorong untuk membantu mereka. Bersama dengan kawan paling akrabnya, Andrea Prisha, Quah mulai menjual biskuit buatan sendiri untuk mengumpul dana. Dua sahabat itu menggunakan media sosial untuk membangkitkan kesadaran untuk tujuan sosial mereka dan menghimbau bantuan dana bagi tujuan itu. Berkat kerja keras mereka, mereka telah berhasil mengumpulkan uang yang cukup untuk melanjutkan operasi sekolah itu selama enam bulan lagi. Kemudian, pada 3 September 2012, mereka berdua telah mendirikan Pengungsian bagi Pengungsi, Refuge for The Refugees (RFTR), untuk…

Latest Posts

Kupu-kupu

Orang-orang Dibalik Tembok Berlin

Kekudusan

Beda Lebah dan Lalat

Kesombongan

Ambisi atau Ambisius?

Ini Adalah Kisah Seorang Raja Yang Hadir Di Tengah-tengah Rakyatnya

Percuma Bermimpi Jadi Besar

"Jangan menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi!"