Kesombongan






KESOMBONGAN, kecongkakan, adalah kebencian bagi Tuhan. Bukan hanya karena ia cendrung meninggikan dirinya dan pada saat yang sama merendahkan orang lain, tetapi karena “orang yang sombong sebetulnya adalah orang yang sudah merasa cukup dengan dirinya sendiri, yang tidak lagi memerlukan orang lain ataupun Tuhan”. Seperti dalam cerita ini.

Suatu kali ada dua buah tempayan. Yang satu kuat dan bagus, sementara satunya lagi sudah lapuk, jelek dan hampir koyak karena beberapa lubang di badannya.

Tempayan yang bagus selalu mengejek tempayan yang lapuk. "Kamu tidak akan bisa berfungsi dengan baik, karena kamu tidak berguna. Jangankan membawa air dan menyirami kebun petani di atas bukit, untuk mempertahankan air selama lima menit di dalam badanmu saja, kamu tidak akan mampu. Aku heran mengapa petani masih menggunakanmu untuk mengangkut air!"

Mendengarnya, tempayan lapuk hanya terdiam dan menyesali dirinya. Hari demi hari dilewatkannya hari dengan hati yang kusut. Petani mengamati si tempayan dan menanyakan masalahnya. Begitu mendengar penuturan sang tempayan, petani tidak menjawab apa-apa dan malah membawa tempayan untuk membawa air ke atas bukit. Lagi-lagi, bersama si tempayan bagus yang selalu menyombongkan dirinya.

Dalam perjalanan ke atas bukit, ada banyak bukit yang indah. Juga bunga-bunga di sepanjang jalan. Sambil bernyanyi dan tersenyum si petani bercerita pada dua tempayannya, "Yang satu bagus dan yang satu lagi berlubang. Tapi, bagiku, kalian berdua sama-sama banyak manfaatnya. Si bagus bisa membawa air dan menyirami kebunku di atas sana. Dan, kamu yang lapuk dan bocor, coba lihat bunga-bungan di sepanjang jalan ini. Tubuhmu yang mulai rusak mengalirkan air kepada bunga-bunga di sepanjang jalan. Karenamu, mereka bisa tumbuh dengan indahnya."

Si tempayan lapuk melihat ke bawahnya, dia menyadari apa yang dikatakan petani kepadanya dan mulai merasa bahagia.


Eka Dharmaputera, dalam bukunya “Mencari Allah – Pemahaman Kitab Amos” menulis, Allah sangat mengecam kecongkakan Israel. “Aku ini keji kepada kecongkakan Yakub, dan benci kepada purinya”  (Amos 6:8). Kalau Tuhan membenci kecongkakan Israel, Tuhan juga akan membenci kecongkakan atau ketinggian-hati kita”.

Dia melanjutkan, “Pintu surga bukanlah untuk orang yang congkak dan tinggi hati. Orang yang sombong sebetulnya adalah orang yang sudah merasa cukup dengan dirinya sendiri, yang tidak lagi memerlukan orang lain ataupun Tuhan. Kalau orang itu datang menghadap Tuhan, ia datang dengan segala amal kebajikannya dan menagih Tuhan seperti orang menagih utang. “Ini yang sudah aku lakukan, mana upahku?” Orang ini merasa sudah dapat menyelamatkan dirinya sendiri dengan apa yang ada padanya. Mungkin dengan uang, pangkat, amal kebaikan, atau kesalehan dan hidup keagamaannya. Dia tidak lagi memerlukan Yesus sebagai Juruselamatnya. Padahal, orang yang mau menyelamatkan dirinya sendiri akhirnya justru akan binasa. Tidak ada orang yang dapat menyelamatkan dirinya sendiri”

Comments

Popular Posts